Header Ads Widget

Responsive Advertisement

NEGOSIASI DAN MANAJEMEN KONFLIK | DuniaSaja.com

DUNIASAJA.COM-NEGOSIASI DAN MANAJEMEN KONFLIK.

Pendekatan konflik (conflic approach) berpangkal pada pendapat, karena setiap masyarakat senantiasa berada di dalam proses perubahan yang tidak pemah berakhir, atau perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat. Setiap masyarakat mengandung konflik di dalam dirinya, konflik merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat. Setiap unsur didalam masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya integrasi dan perubahan sosial. Setiap masyarakat terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang atas jumlah orang-orang lain.

konflik yang menjurus pada pengrusakan dan penghilangan salah satu pihak atau para pihak yang berkonflik. Oleh karena itu konflik harus dikendalikan, dikelola, dan diselesaikan melalui hukum. Yang berarti melalui jalan damai (konsensus). Konflik adalah suatu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif. Jika konflik selalu ada, berarti konflik memang sebenarnya dibutuhkan. Manfaat konflik antara lain membuat masyarakat menyadari adanya banyak masalah, mendorong ke arah perubahan yang diperlukan, memperbaiki solusi, menumbuhkan semangat mempercepat perkembangan pribadi, menambah kepedulian diri, mendorong kedewasaan psikologis dan menimbulkan kesenangan.


Dalam teori Dahrendorf, relasi-relasi di struktur sosial ditentukan oleh kekuasaan (Novri Susan, 2009, hlm: 39). Adapun kekuasaan yang dimaksud oleh Dahrendorf adalah kekuasaan atas kontrol dan sanksi yang memungkinkan pemilik kekuasaan memberikan perintah dan meraih keuntungan dari mereka yang tidak berkuasa. Dalam pandangan Dahrendorf, konflik kepentingan menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan dari relasi antara pemilik kekuasaan dan mereka yang tidak berkuasa. Pada awalnya, Dahrendorf merumuskan teori konflik sebagai teori parsial yang digunakan untuk menganalisis fenomena sosial. Lantas, Dahrendorf melihat masyarakat memiliki dua sisi berbeda, yaitu konflik dan kerja sama.
Seperti bansos untuk warga terdampak Covid-19 di Aceh antara lain bantuan bahan pokok dari pemerintah provinsi, bantuan dari pemkab atau pemkot, dan bantuan langsung tunai dana desa. Selain itu, ada juga bantuan program keluarga harapan dan bantuan pangan nontunai dari Kementerian Sosial. Pemprov Aceh menyalurkan bantuan bahan pokok kepada 60.000 rumah tangga. Bahan pokok itu berupa beras, gula, minyak goreng, ikan kaleng, dan mi instan. Pendataan yang tidak transparan dan kekeliruan menerjemahkan kriteria penerima memicu konflik sosial baru. Di Aceh Tenggara, pemuda karang taruna berunjuk rasa di depan dinas sosial setempat terkait data penerima bansos. Dana desa diandalkan sebagai penopang ekonomi sosial warga pedesaan melalui program padat karya, pencegahan Covid-19, dan bantuan langsung tunai. Namun, penyaluran bantuan langsung tunai belum dilakukan semua desa.

Negosiasi dalam kehidupan sehari-hari dilakukan dalam dua hal yaitu kompromi dan kompetisi. Kompromi adalah situasi dimana kedua pihak saling memberikan kepercayaan dan menyesuaikan diri dan dapat dicapai situasi dimana kedua pihak sama-sama diuntungkan (win win solution). Sementara pada kompetisi, hanya ada satu pihak yang akan mencapai tujuannya (i win and you lose). Struktur otak manusia, seperti lapisan pada bawang merah dan terus berkembang dimana manusia tua pada zaman dinasaurus dahulu hanya mengandalkan emosi. Dalam negosiasi diibaratkan dilarang menjadi seekor dinasaurus yang hanya mengandalkan emosi.
seseorang pada saat marah, akan cenderung berbicara dan sedikit mendengarkan. Pada negosisiasi yang dibutuhkan seseorang yang lebih banyak mendengar. Tahapan yang dilakukan pada negosiasi adalah, mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh pihak lain, memahami yang dibutuhkan oleh pihak lain, memahami tujuan kita dalam melakukan diskusi, dan mendiskusikan bagaimana tujuan dari pihak lain dan tujuan dari kita bernegosiasi dapat tercapai. Apabila, menemui kendala maka dapat diberikan beberapa pilihan agar kedua pihak tercapai tujuannya masing-masing. Inti dalam bernegosiasi adalah mengerti dan memahami bagaimana kebutuhan pihak lain, dan menyesuaikannya dengan kemampuan serta kelebihan yang kita miliki agar masalah dan tujuan dari dilakukannya negosiasi tercapai.
Untuk mengetahui, apa yang dibutuhkan pihak lain harus terbiasa dengan pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang jawabannya tidak terbatas pada iya atau tidak melainkan sebuah penjelasan. Negosiasi yang diawali oleh sebuah pertanyaan akan jauh lebih baik, sebagai fondasi yang kuat dalam sebuah negosiasi. Sesuai dengan teori negosiasi dilakukan dalam beberapa fase, yaitu opening atau pembukaan negosiasi menanyakan apa yang diperlukan, yang kedua adalah explanation yaitu penjelasan yang lebih dalam dari apa yang dibutuhkan oleh pihak lain. Fase ketiga adalah negotiation yaitu menanggapi kebutuhan tersebut dengan kemampuan yang kita miliki, dan fase terakhir adalah memastikan bahwa tujuan dilakukannya negosiasi tercapai dan kedua pihak mendapatkan solusi terbaik. 
Aceh Tenggara merupakan wilayah yang tidak memiliki riwayat dan sejarah tentang konflik yang bernuansa agama, budaya, dan politik. Namun, hal itu berubah ketika pembangunan patung Willem Situmorang di Desa Kampung Nangka pada tahun 2016. Munculnya konflik 2 Januari 2018, pada tahun tersebut ada Pemilihan Umum (pemilu) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan politikus memanfaat hal tersebut karena yang mencalonkan adalah Kristen, hal itu menuai kontra dari masyarakat karena telah melanggar Qanun dan tidak sesuai dengan budaya Aceh Tenggara, kemudian melakukan demontrasi ke kantor Dewan Perwakilan Rakya Kabupaten (DPRK) dengan mengusung berbagai poster dan jalan raya ditutup selama empat jam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari upaya resolusi konflik atas penolakan pembangunan patung Willem Situmorag agar patung tidak dihancurkan. Penelitian ini mengaplikasikan teori mediasi dari Andrew Woolford dan R.S. Ratner. Dalam teori ini ada tiga pendekatan yang dilakukan yaitu mediasi, restoratif, reparasi. Agar dapat melihat resolusi konflik di masyarakat Kampung Nangka Kabupaten Aceh Tenggara demi terciptanya harmonisasi. Penelitian ini merupakan penelitian field Research yang bersifat kualitatif dengan pendekatan sosiologis. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara induktif data-data primer dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Data sekunder dari buku dan jurnal. Hasil penelitian ini adalah pertama, resolusi konflik yang dilakukan oleh mediator adalah mempertemukan kedua belah pihak untuk berkompromi berdasarkan keadilan restoratif yang didasarkan pada musyawarah mufakat untuk mencapai sebuah kesepakatan. Untuk pemulihan dan mendorong penyembuhan di tingkat individu, komunitas dan nasional bahwa politik reparasi ini berbagai metode untuk menghadapi kekerasan massal. Kedua, dalam pertemuan tersebut ada tiga opsi yang ditawarkan pertama, patung Willem Situmorang harus ditutup kedua, patung di pindahkan dari Kampung Nangka. Ketiga, patung dihancurkan, dari ketigaopsi tersebut yang diambil adalah opsi yang pertama, patung ditutup dengan tembok dan tidak terlihat dari jalan sebagaimana biasanya, kemudian kesepakatan tersebut dibentuk menjadi sebuah dokumen sebagai kesepakatan bersama.

Post a Comment

0 Comments

Pemamanan | DuniaSaja.com